Renungan Film 'HULK'
Selasa, 05 Agustus 2008
MARI KITA RENUNGI APA YANG DILIHAT, DIDENGAR, dan DIRASAKAN
Oleh: Daniel Winarta
Setelah melihat film The Incredible Hulk 2, saya sempat berpikir ternyata kita tak beda jauh dengan si Bruce, si tokoh cerita tersebut, diri kita TERKADANG diliputi rasa marah, benci, kesal dan sebagainya. dan bila hal-hal itu sudah tak tertahankan kita akan menjadi monster Hulk, akan mengamuk, mengumpat dan marah atas apa yg terjadi dengan kita. karena kita tak dpt mengontrol itu semua, kita akan menjadi monster hulk yang benar-benar menakutkan bagi teman, keluarga, orang-orang yang kita cintai bahkan diri kita sendiri. Sudahkah kita mencari obat/solusi untuk mengatasi ini semua?
Si tokoh Bruce dengan berbagai cara mencari obat untuk mengatasi penderitaannya itu. Saya jadi teringat akan kisah Pangeran Siddhattha Gotama (Siddharta Gautama) yang mencari obat untuk mengatasi penderitaan di dunia ini, dan akhirnya berhasil dari hasil meditasinya di bawah pohon Bodhi, demikian pula si Bruce ini. Pada akhir film itu kita lihat si Bruce sedang duduk bermeditasi untuk mengatasi amarah dan monster dalam dirinya supaya tak muncul dan akhirnya berhasil tanpa ada kejadian yg menyebabkan dirinya berubah jadi monster.
Berbagai komentar dari film ini, yang saya dengar diantaranya: ada yg bilang kalau saya punya Pacar seperti Si Bruce repot juga ya, karena mesti belikan dia celana yang lebih besar dari ukuran sebenarnya, supaya tidak begitu malu pas dia berubah jadi monster. Bagaimana dgn monster yang ada di dalam diri ketika kita marah muncul? apa yang harus kita siapkan untuk atasi ini?
Apa mesti beli celana yang lebih besar juga? Jadi bila hal ini muncul dalam diri kita, kita sudah tak begitu malu, tapi saya rasa celananya harus dipakai di muka ya, untuk tutupi muka kita? Biar orang tidak tahu siapa yang marah di balik celana besar itu? he..he he...lucu ya? Bagaimana nih repot juga kan ?
Ya, kayanya sih lebih baik kita contoh si Bruce dan Pangeran Siddhattha juga deh, dengan latihan meditasi, supaya amarah, kebencian dan kekesalan kita bisa terkendali ,setuju?
Di bulan Asadha ini, mengingatkan saya ternyata ajaran sang Buddha masih relevan dengan jaman sekarang, sudah lebih dari 2500 tahun.
Maka, mari kita tingkatkan keyakinan kita terhadap ajaran Buddha dengan lebih banyak lagi belajar Dhamma lebih jauh ,dengan praktek kerelaan (berdana), sila dan samadhi. Berdana memang baik tapi perlu pula disertai dengan pengertian yg benar yaitu berdana untuk melatih ”melepas”, melatih kerelaan, memberikan apa yang kita miliki untuk kebaikan dan kesejahteraan pihak lain, dan dijaga dengan praktek sila dan samadhi kita.
Kita kan sudah dewasa masa bisanya cuma berdana aja....naik kelas dong dengan praktek sila dan samadhi. Kalau cuma dana aja ..? anak kecil juga bisa. Banyak diantara kita mungkin kecewa dan salah pengertian dengan ajaran Sang Buddha, terutama kalau hanya dipandang dari berdana dan berbuat baik, ada yang berpikir "saya kan sudah banyak berdana dan berbuat baik, kok kehidupan saya begini-begini saja? katanya kalau kita berdana apa yang kita harapkan akan tercapai? kok sampai sekarang saya belum mendapat jodoh? kok saya belum kaya? kok ...saya.....? cape deh....
Berdana diibaratkan seperti menanam benih yang akan kita panen pada suatu waktu nanti, nah..kalau menanam benih tanaman itu kan mesti dirawat, supaya hasil panennya bagus, mesti disirami setiap hari mesti dikasih pupuk ...dsb. kalau tidak dirawat ya.. bisa tidak bagus hasilnya, bisa juga tidak panen nanti bahkan tidak bisa memetik buahnya sama sekali.betul ..ngak? Berdana demikian, mesti kita rawat dan jaga dengan sila dan pengendalian diri kita supaya kita benar-benar bisa memetik hasilnya. Jadi selama ini bila kita sudah banyak berdana dan berbuat baik, bagaimana dengan perbuatan kita yang tak baik? Apa banyak juga yang kita lakukan? Jadi kalau tak ada hasilnya, kita tidak bisa menyalahkan ajaran Sang Buddha, kita sendiri yang salah. Habis bagaimana dong, supaya tidak berbuat salah, minimal sedikit? Ya, mesti ada pengendalian diri, ya gimana supaya bisa kendalikan diri? Ya,dimulai dengan menjaga sila dan ditingkatkan lagi dengan latihan athasila (8 sila ) pada hari tertentu (uposatha) dan juga praktek meditasi, dijamin sedikit banyak akan ada perubahan dalam diri kita, terutama karakter sifat kita, menjadi malu & takut untuk marah, benci.
Tak percaya coba aja!!! Semoga berguna untuk menambah keyakinan kita terhadap TIRATANA (Buddha-Dhamma-Sangha)
Sabbe satta bhavantu sukhitatta ... semoga semua mahluk hidup berbahagia
SELAMAT HARI ASADHA 2552 BE / th. 2008

0 komentar: to “ Renungan Film 'HULK' ”
Posting Komentar